cintai saya apa adanya

Posted: Oktober 17, 2010 in sedih

Saya memiliki suami yang seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Setelah 3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun masa pernikahan, harus saya akui bahwa saya mulai merasa lelah.

Alasan2 saya mencintainya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat2 romantis seperti anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan pada dirinya.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya berkurang. Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa ?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?? (gumamku dalam hati). Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”

Saya menatap matanya dalam2 dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hatimu, saya akan merubah pikiran saya”.

“Sayangku, seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing, akan tetapi kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung kamu akan mati, apakah kamu akan melakukannya untukku?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, ” Saya akan memberikan jawabannya besok”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat.

Di situ tertulis … ” Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya”. Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya, namun saya melanjutkan untuk membacanya.

” … Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program2 di PC dan akhirnya menangis di depan monitor karena panik, namun saya selalu memberikan jari2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat2 baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal2 pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah  atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal2 lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku sambil tidur dan itu semua tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong menggunting kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari yang aku dapat lakukan. Namun jika semua yang telah diberikan tanganku, mataku, kakiku tidak juga cukup bagimu, maka aku tidak akan bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakanmu”.

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu merasa puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di depan menunggu jawabanmu. Tapi jika kamu tidak puas sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang2ku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia”.

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh … kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah CINTA, di saat kita merasa CINTA itu telah berangsur-angsur hilang dari HATI kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan CINTA dalam Waktu yang kita inginkan, maka CINTA itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s